Postingan

Masa Lalu

Hai masa lalu ... Masa yang mengisi kisahku Cerita hidupku yang berbagai warna Dan bayang-bayang yang takkan pudar Di masa kini aku bercerita Pada angin yang masih sejuk Dan matahari yang menyinari Tak lupa embunnya disetiap pagi Terima kasih telah hadir Membawa canda tawa yang sedemikian rupa Kini aku punya sejuta cerita Yang ku kenang dengan cinta

Hidup

Kau yang tak akan terlepas dari diri yang bernafas Perjalanan panjang yang akan bertemu dengan akhir Jalan bagai landak yang beduri tajam Melewati gonggongan suara hujan badai Detak jantung yang selalu menyertai Bisa mengarungi semua kolam rasa Adanya kamu menyalalah nyawa Sampai habis waktu yang tersisa

Gumpalan Rindu

Kerasnya gumpalan rindu itu Membutakan mata hatiku Berbuat nekat itu hanya solusinya Segila itu yang akan ku lakukan Coba ku lihat... Sejauh apa gumpalan rindu membawaku Akan ku jual habis semua rasa itu Dan meleburlah segunung rindu

Mengenang

Bagian tersedih adalah melepaskan Keadaan sedang tidak baik-baik saja Semua berubah secara perlahan Kini hanya mengenang yang telah usai Memang semua sudah tuntas Namun tidak dengan kenangan Ku terjemahkan tiap helai rindu Hanya untuk sekedar mengartikan

Rindu

Belum sempat ku menggenggam Tapi dipaksa untuk melepaskan Bukan tidak ikhlas ... Namun belum bisa menerima kenyataan Kapaitan ini bagai kopi tanpa pemanis Tenggelam sudah semua rasaku Kini rindu itu sangat menyakitkan Rindu yang belum sempat ku genggam

Berlalu

Masa berlalu seiring berjalannya waktu Aku siap dan tidak siap Mengikuti kejaran waktu Menghargai kecepatan pergantian waktu Ku nikmati waktu Hanya berdiri memandang orang berlalu lalang Memikirkan masa depan Bakal menjadi apa aku nanti?

Takdir

 Teruslah bercerita Perlihatkan bagaimana kesederhanaannya Tengoklah masa lalu Mengingatnya adalah hal yang pilu Disatukan oleh perasaan Dipisahkan oleh kenyataan Dua yang tidak bisa satu Memang takdir yang hanya sekedar mampir

Perpisahan

Trauma masih melekat kuat Entah karena hal besar atau kecil Dituntut siap jatuh dan kecewa Sebab gagalnya sebuah ekspetasi Perlu belajar dan menerima Tak semua kenyataan berujung indah Menghindari hidup dengan ketakutan Karena perpisahan itu memang ada

Berakhir

Dulu perasaanku yang liar Terbuai panah asmara Kini menjadi hambar karena kesukaran Sekarang aku bukan rumah untuk kau pulang Teruntuk kamu yang sudah hilang Berakhirlah cerita yang pernah ada Terkenang banyak makna Tersimpan dengan harapan tenang

Pisah

Marah dan kesal hadir di setiap peluang Entah bagaimana kami nanti Mencoba bertahan dengan leburan hati  Leburan hati yang hancur karena setengah jiwa akan pergi Berbaring saling membelakangi satu sama lain Menahan tangis yang tak boleh bersuara Berlalu sama kami melanjutkan keheningan Dan perpisahanlah yang jadi cerita hidup kami berdua

Egois

 Lucu ... Aku yang membuat dia pergi Tetapi ku juga yang mengharap dia kembali Sikap egois itu ... Disaat lemah dia menguasaiku Kita bertemu di titik terbaik menurut takdir Tugasku telah usai Biarlah orang lain yang menemani Sampai jumpa di suatu hari nanti

Kehidupan

Berpisah menjadi hal terjahat Pertengkaran selalu mengusik pikiran Begitupun kenangan yang melekat di hati Namun proses yang menemani Mempresentasikan kehidupan Banyak kisah dengan bermacam keadaan Dibalut rasa suka dan duka Sungguh perjalanan yang penuh rintangan

Jatuh Bangun

Aku masih mengingat dan mengingat Tiada hari tanpa basahan air mata Rasa hancur dengan kerasnya menghantam diri Selalu menangis ketika jalan pulang  Tapi, sekarang aku mengerti  Menangis tapi tersenyum Jatuh tapi bangun Gagal tapi berhasil Terima kasih sudah mau bertempur Bangun setegak mungkin untuk memasang badan Padahal lelah sudah tertumpuk Hormat ku untuk memberi salam hebat

Hobi Aneh

Menuang kata yang terlalu panjang Hobi aneh yang menjadikan sebuah karya Tak banyak yang tau bumbu-bumbunya Banyak yang mengira itu cuma drama Kegelisahan menjadi sumber tuangan Tidak heran dengan keanehan hobi ini Melahirkan karya-karya indah Ternyata banyak penikmat rasanya

Mimpi

Sebelum kupejamkan mataku Semua pinta sudah kuucap Berharap sang angin malam membawa mimpiku Aku takut sepi yang menangkap angan itu Sempat ku berpikir masih bermimpi Kata rembulan mimpiku kan terwujud Masih seperempat kesadaranku Tibalah mimpi ku tetap semu

Kuat

 Diri terjajah bak peperangan Kepercayaan dihancurkan penghianatan Hati luka tapi tak berdarah Perih selalu hadir dalam ingatan Memasang mental sekuat baja Dipaksa kuat oleh keadaan Sampailah dititik terbiasa Mengingat dan melihat pun tak lagi terluka

Pasrah

Pernah melangitkan sebuah khayalan Menaruh harapan terlalu dalam Dan kecewa datang mendera Lalu ku bumikan segalanya Sulit dan sesak rasanya... Ruang kosonglah yang menjadi teman Menemukan diri yang tak berdaya Dan pasrahlah jadi tindakan akhirnya

Kecewa

Ternyata benar ... Kecewa ada karena terluka Memilih pergi itu sulit Untuk bertahan pun sakit Luka datang begitu kilas Lalu bertaut di akar hati Memang tak bisa memiliki Hanya boleh sekedar mengagumi Menangis sepuas hati Mengalah pilihan yang tepat Berteman dengan keadaan Bersahabat dengan kenyataan

Sandiwara

Hanya sebagai teman yang singgah Sempat jadi sekedar pelarian Hingga terjatuh terlalu dalam Bagaimana cara melupakannya? Pura-pura mengikhlaskan Sandiwara itu sangat menyakitkan Padahal bukan siapa-siapa Namun terluka karena sebuah harapan

Cara Pandang

Kau sudah tahu dari awal Bahwa mempelajari butuh proses Jatuh lebih mudah dari bangkit Memperbaiki itu lebih sulit dari merusak Dan lihatlah... Bagaimana harapan menunggu keajaiban Dan muncul lah cara pandang Terkadang menyebalkan namun menakutkan